<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>www.bimoeriartha.com</title>
	<atom:link href="http://bimoeriartha.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bimoeriartha.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 03:22:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kepada Anakku tercinta</title>
		<link>http://bimoeriartha.com/http:/bimoeriartha.com/sample-post/</link>
		<comments>http://bimoeriartha.com/http:/bimoeriartha.com/sample-post/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 21:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bimo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[CerPen-ku]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bimoeriartha.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Sebuah cerpen by Bimo Eriartha  &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
From nothing to something, begitulah adanya kamu tercipta anakku. Kamu adalah rahasia alam dari protein yang hidup dalam testisku, menyembur keluar dalam gegap gempita sukacita, yang berenang seperti seekor ikan pari dan membuahi telur dalam perut Ibumu.
Hanya kamu yang selamat dari ribuan kecebong sperma saudaramu. Hanya kamu yang berhasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Sebuah cerpen by Bimo Eriartha<span>  </span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;"><em>From nothing to something, begitulah adanya kamu tercipta anakku. Kamu adalah rahasia alam dari protein yang hidup dalam testisku, menyembur keluar dalam gegap gempita sukacita, yang berenang seperti seekor ikan pari dan membuahi telur dalam perut Ibumu.</em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Hanya kamu yang selamat dari ribuan kecebong sperma saudaramu. Hanya kamu yang berhasil melewati lorong-lorong sempit dengan racun basa yang mematikan dalam falopi Ibumu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Kamu adalah keajaiban. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Kamu terlahir anakku, dari sukacita yang mendalam. Kamu bukanlah Karna yang dibuang oleh Kunti dalam riak sungai Yamuna. Yang tidak pernah mendapat pengakuan, bahkan sejak udara pertama melewati parunya. Seorang Resi bernama Druwarsa waktu itu bahkan telah membantu si Kunti melahirkan Karna lewat telinga, hanya karena Kunti lebih menghargai kesucian selaput diantara selangkangannya daripada sesosok kehidupan bernama Karna.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Ketika kamu masih dalam rahim Ibumu, tahukah kamu nak akan kegundahan hatiku ? Jangan-jangan ragamu akan didiami roh Aswatama. Bukankah kutukan Sri Kresna untuknya – karena membunuh Srikandi dan anak Yudistira ketika sedang tidur, usai Bharatayudha – berlaku hanya untuk 3000 tahun ? Bukankah jasadnya akan berkeliaran mencari raga sepanjang itu tanpa pernah menitis ? Dan siapakah yang dapat menjamin bahwa 3000 tahun itu adalah hari, saat engkau dilahirkan ???</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FR"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FR">Cintaku kepada Ibumu tulus anakku. Bukan seperti birahi Arjuna yang memanfaatkan ketakutan Anggraini dikejar raksana di Rimba Kamiaka. Bahkan melebihi epos Rama dan Sinta. Bukankah Rama meragukan kesucian Sinta ketika justru ia berhasil merebutnya dari sekapan Rahwana ??</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FR"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FR">Aku susah sekali mencari padanannya. </span></em><em><span lang="EN-US">Bukankah tidak ada cinta kasih yang melegenda dengan happy ending ? Bukankah Juliet menengguk racun kematian untuk bersatu dengan Romeo ? Bukankah Eng Tay menjemput ajal untuk menemui Sam Pek ?? </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Aku tidak tahu apakah arti cinta itu. Tapi aku berkata kepadamu ; kelak, suatu saat nanti, seluruh pengetahuan yang kamu miliki tidak akan pernah bisa menterjemahkan cinta dalam bahasa kata-kata. Tapi tubuhmu, otakmu dan hatimu akan merasakan cinta yang sesungguhnya. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Anakku, aku bersyukur karena bisa mendampingi Ibumu ketika melahirkan engkau. Memegangi kedua tangannya, menghiburnya, membuatnya tertawa – meski tidak bisa - untuk menjauhkan semua perhatian dari sakit diperutnya.<span>  </span>Aku tahu bahwa yang aku lakukan tidak akan berpengaruh apapun untuk memperingan sakitnya, tapi setidaknya, semoga, Ibumu terhibur dan sejenak melupakan apa yang tengah dia alami. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Dia perempuan yang hebat. Delapan jam yang melelahkan dan tak satupun air mata keluar dari wajahnya. Aku iri padanya. Sekarang aku tahu, Tuhan telah menyatukan kami supaya aku belajar padanya untuk menghadapi sulitnya kehidupan dengan tabah</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FR">Ibumu adalah tulang rusuk yang kuat. </span></em><em><span lang="EN-US">Yang tak retak ketika dibenturkan ke karang dan yang tak hancur digilas bebatuan. Apakah dia berasal dari igaku yang rapuh ? </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Anakku, ketika kamu masih melayang dalam ketuban ibumu, dengarkah engkau akan suaraku ? sampaikah ciumanku lewat perut Ibumu kepadamu ? hanya dinding kulit tipis yang memisahkan kita, tapi hatiku sudah rindu untuk menimangmu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Menendanglah dengan kuat, karena kami berdua menantikan itu. Jangan sungkan untuk menggeliat, karena kami berdua menantikan itu. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Ibumu telah menebus karma terbesar dalam kehidupannya dengan melahirkanmu. Meregang nyawa antara hidup dan mati. Terjaga dalam ambang kesadaran. Merasakan kesakitan terbesar dalam sejarah kehidupannya. Cukupkah aku memberikan cinta untuk meringankan deritanya ??? Tidak ! Tapi ia mempunyai banyak cinta untuk melahirkanmu kedunia. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Suatu saat nanti anakku, pesanku padamu ; ucapkanlah terimakasih kepada Ibumu atas semua perjuangan yang telah ia lakukan.<span>  </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Dan tahukah kamu anakku, karma yang Tuhan berikan kepadaku ? meninggalkan kalian berdua – dua orang yang paling aku cintai, untuk bekerja. Membayangkan wajah kecilmu disela-sela rutinitas harianku. Membayangkan betapa sibuknya kalian berdua mengisi hari ini, sementara aku disini menatap rindu foto bayimu. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Barangkali memang tidak seimbang dengan perngorbanan yang telah ibumu berikan, akupun sering bertanya demikian kepada alam. Tetapi seandainya saja aku bisa mengambil sebagian dari apa yang Ibumu derita, aku akan melakukannya anakku. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Kami berdua sering melamunkan wajah mungilmu Dan mengkhayalkan bentukmu nantinya. </span></em><em><span lang="FR">Barangkali engkau akan mewarisi alis ibumu, atau mungkin mulut milikku. </span></em><em><span lang="EN-US">Namun diluar itu, sesungguhnya kamu adalah bentuk yang baru. Kami berdua hanyalah orang yang beruntung karena Sang pemberi kehidupan telah mempercayakan ciptaannya yang indah – yaitu kamu - kepada kami. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Anakku, kalau kamu sudah dewasa dan memiliki kehidupanmu sendiri, mungkin kamu akan mulai melupakanku, tetapi satu pintaku; Jangan Lupakan Ibumu !</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Untuk setiap tetes air kehidupan yang mengalir dari dada Ibumu, - yang engkau hisap dari mulut kecilmu, untuk setiap detik waktu yang ia sisihkan untuk menenangkanmu saat terjaga ditengah malam, atau untuk setiap kasih saying yang ia berikan saat menyuapimu, aku mohon jangan lupakan dia. Aku tahu ibumu tak akan meminta apa-apa daripadamu, ia mencintaimu lebih daripada siapapun di dunia ini, permintaan ini tulus dating dari aku, ayahmu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Suatu saat nanti, kamu akan belajar anakku. Bahwa kehidupan sesungguhnya tidak pernah berpihak kepada siapapun. Namun aku bersyukur karena kehidupan telah begitu bermurah hati memberiku kesempatan untuk melihatmu lahir kedunia </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"><span>            </span>Terkadang aku iri kepada kalian, kepada ibumu yang dengan mudah meninabobokkanmu ketika rewel, yang hanya<span>  </span>dengan suara merdu ibumu dapat membuatmu terlelap, seandainya aku bisa … tapi tahukah kamu, betapa bangganya diriku ketika suatu saat kamu terlelap dalam pengkuanku ??</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"><span>            </span>Kuceritakan kepadamu mengenai tiga buah rahasia kebahagiaan dalam hidupku yang membuatku lengkap menjadi seorang ayah : </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span lang="EN-US"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span lang="EN-US">Kebahagiaan pertama</span></em></strong><em><span lang="EN-US"> ; ketika aku dan ibumu menikah. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Memulai kehidupan bersama dalam kesederhanaan berumah tangga. Apa yang kami miliki ? tidak ada, selain Cinta. Bagimu mungkin terlalu klise aku berkata demikian, tapi untuk setiap cinta yang aku lalui dengan ibumu, masing-masing mempunyai makna mendalam.<span>  </span>Ibumu seperti pegangan dalam hidupku. Ia menjadi air yang dingin ketika emosiku meledak, dan ia menjadi suluh ketika aku berada dalam kegelapan. Dan ia memberikan sukacita yang mendalam ketika memberikan kamu, anakku - satu hal yang hingga kapanpun tak akan dapat aku berikan gantinya hingga ajalku nanti.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span lang="EN-US">Kebahagiaan kedua ; </span></em></strong><em><span lang="EN-US">ketika kamu lahir kedunia. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Apakah yang dapat aku sangkal tentang ini ? kukatakan kepada semua orang bahwa malam itu tanggal empat September dua ribu dua pukul sebelas malam lebih empat menit kamu telah lahir ke dunia. Dalam guyuran keringat dan jeritan tertahan ibumu, aku tahu, kalau engkaupun berjuang saat itu untuk keluar dari rahim yang sudah tidak mampu lagi memuat tubuhmu. Kamu adalah keajaiban. Tubuhmu begitu kecil, terbungkus dalam lendir ketuban. Tangismu memecah kesunyian malam. Dan Ibumu, tahukah kamu apakah yang dia rasakan ? Ia melupakan semua kelelahan setelah berjuang lebih dari delapan jam untuk melahirkanmu. Ia tersenyum bahagia untukmu. Dan ia juga tersenyum bahagia untukku. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span lang="EN-US">Kebahagiaan ketiga ; </span></em></strong><em><span lang="EN-US">ketika melihatmu dewasa nanti, memiliki seseorang yang istri mencintaimu, dan menjadi seorang ayah seperti aku. Sungguh, saat itu aku akan tersenyum kepada diriku dan kukatakan terimakasih kepada Tuhan yang sebesar-besarnya karena Dia telah memberiku yang terbaik.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Dalam beberapa hal kami kadang memang berselisih paham, dan dia akan diam – aku menyesal telah memberi contoh yang jelek kepadanya dengan diam ketika marah - namun aku selalu rindu akan suaranya. Aku mencarinya ke setiap sudut rumah kita, sampai akhirnya ia memulai berbicara, “mencari apa ?!” dan aku katakan dengan senang aku telah menemukan suara Ibumu yang merdu. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Ketika umurmu menjelang dewasa nanti, kamu akan sadar sadar betapa singkatnya hidup ini betapa tidak adilnya Tuhan memberi waktu yang pendek tanpa memberi kesempatan kepada kita untuk berterimakasih kepada orang-orang yang telah mencintai kita. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Karena itu, pesanku; nikmatilah semua masa-mu dengan sukacita. Sebab ketika kamu memutuskan mempunyai anak nanti, tugasmu adalah menyiapkan jalan kebahagiaan untuknya. Jangan takut untuk menjadi seorang ayah, karena kamu dilahirkan untuk jadi itu. Dan jangan ragu-ragu akan kehidupanmu, karena Sang Pembuat Kehidupan selalu mempunyai rencana yang terbaik untukmu</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Akhirnya anakku, doakan kami, ayah dan ibumu, melalui bahasa dan kata -katamu yang masih sederhana kepada Sang Pembuat Kehidupan, supaya kami selalu dapat mendampingimu dan memberikan kehidupan yang layak untukmu. Biarkan peluh dan keringat kami berharga untukmu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Sekarang, tidurlah. Bersandarlah didadaku. Biarkan telingamu mendengarkan degup jantungku. Dan biarkan otakmu merangkai nada itu menjadi musik Mozart buaian tidurmu. Biarkan bau tubuhku menjadi aroma Lavender yang menenangkan syarafmu, dan biarkan ….. ah, engkau sudah tertidur rupanya.<span>  </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Kepada </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">anak dan istriku - dua orang yang aku cintai.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">Kamar ngarep</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">8 Februari 2002</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bimoeriartha.com/http:/bimoeriartha.com/sample-post/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Pengakuan</title>
		<link>http://bimoeriartha.com/http:/bimoeriartha.com/sample-post/</link>
		<comments>http://bimoeriartha.com/http:/bimoeriartha.com/sample-post/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 12:47:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bimo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[CerPen-ku]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bimoeriartha.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[ 
Ngruki, 10 Desember 2002
 
Tidak ada hujan hari ini, tetapi aku menulis pengakuan ini dengan hati yang basah penuh oleh air mata. 
Terlalu sedih hingga aku kehilangan bahasa kata-kata.
Berita penangkapan pelaku pengeboman tempo hari telah menyentak kehidupan normal kami, karena yang bapak-bapak polisi tangkap itu adalah kamu – anakku.
Berita yang sangat menyesakkan dada. Mataku sudah terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; ">Ngruki, 10 Desember 2002</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tidak ada hujan hari ini, tetapi aku menulis pengakuan ini dengan hati yang basah penuh oleh air mata. </span></p>
<p class="MsoNormal">Terlalu sedih hingga aku kehilangan bahasa kata-kata.</p>
<p class="MsoNormal">Berita penangkapan pelaku pengeboman tempo hari telah menyentak kehidupan normal kami, karena yang bapak-bapak polisi tangkap itu adalah kamu – anakku.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Berita yang sangat menyesakkan dada. Mataku sudah terlalu lelah untuk membaca huruf-huruf kecil di surat kabar. Tetapi aku memaksanya untuk mau membaca bagiku. Gendang telingaku terlalu tua untuk mendengar suara tv, tapi aku memaksanya untuk mau mendengarkan bagiku.</span></p>
<p class="MsoNormal">Awalnya aku menganggap bahwa mereka salah menayangkan gambar, menyebut nama atau menangkap orang yang mirip denganmu, tapi ketika detik menjadi menit dan menit menjadi jam, aku sadar bahwa itu memanglah kamu.</p>
<p class="MsoNormal">Tetapi sungguh nak.. aku tidak tahu bagaimana mungkin kamu melenyapkan kehidupan dengan begitu mudah. Mereka bukanlah semut yang gampang terinjak atau</p>
<p class="MsoNormal">Aku sungguh tidak mengerti dengan pilihanmu. Bagaimana mungkin kamu melupakan air kehidupan yang mengalir dari kedua dadaku.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk setiap teguk air kehidupan yang masuk lewat mulutmu yang mungil itu aku – simbokmu – selalu berujar kepada Gusti’ “waras .. waras .. yo le”</p>
<p class="MsoNormal">Biarkan puting mbokmu ini lembek tidak menarik, asalkan kamu waras, sehat.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Biarkan semua protein dan zat bergizi lain yang aku dapat dari makanan hari ini menjadi milikmu. Kamu adalah segalanya dan aku akan melakukan apapun untukmu.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk kesakitan yang aku alami ketika melahirkanmu, melepasmu dari kantung rahimku, memaksa lubang kecil diantara selangkanganku membuka jalan keluar kepalamu, aku – simbokmu – berujar kepada Gusti “.. semoga kamu adalah bayi yang sehat, sempurna dan tanpa kurang suatu apa”</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Biarkan aku mengalami kesakitan ini. Bukankah ini karmaku sebagai perempuan ?</span></p>
<p class="MsoNormal">Sejak aku memiliki kamu, barangkali kecantikan adalah hal pertama yang aku buang jauh-jauh dari kehidupanku. Dan bapakmu tahu itu, dan ia tidak pernah mengeluh untuk urusan itu. Ia mencintai aku bukan karena parasku dan bentuk fisik tubuhku.</p>
<p class="MsoNormal">Dan Bapakmu, tahukah kamu nak …</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ia sekarang berbaring sakit disebelahku. Ia terlalu sedih untuk mendengar kabar ini. Dan aku – istrinya – sangat sedih melihat keadaannya. </span></p>
<p class="MsoNormal">Ia sering duduk termenung sejak mendengar kabar tentangmu itu. Matanya menerawang jauh, hingga akupun tidak pernah tahu dimana batasnya. Tidak ada horizon, karena ia melihat tidak dengan kedua bola matanya.</p>
<p class="MsoNormal">Ia orang yang tegar tetapi aku sering mendengar ia terisak ketika tidur. Tanpa aku pernah bisa menenangkannya.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk orang seumuranku, apalagi yang aku cari nak, selain kebahagiaan menyaksikan kamu – anakku – tumbuh dan menjadi dewasa.</p>
<p class="MsoNormal">Mungkin ia menyalahkanku karena tidak mendidikmu dengan baik. Mungkin ia merasa sia-sia karena kerja keras yang ia lakukan seumur hidupnya untuk menghidupi kita berdua – aku dan kamu – berakhir seperti ini. Dan mungkin ia merasa malu karena sebagai kepala keluarga tidak dapat memberikan contoh yang cukup kepadamu.</p>
<p class="MsoNormal">Tetapi; Tidak ! Bapakmu tidak pernah menyakiti aku. Bapakmu tidak pernah menyalahkanku. Ia orang yang terlalu baik untukku.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pernahkah aku bercerita kepadamu ketika suatu saat ia menyatakan penyesalannya sebagai seorang ayah kepadaku ? Ketika kamu sudah beranjak dewasa dan mulai memiliki duniamu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal">Ia menyesal karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk melihatmu tumbuh. Ia menyesal karena ia harus bekerja di waktu pagi ketika kamu belum bangun dan pulang ketika telah tertidur pulas bermain seharian.</p>
<p class="MsoNormal">Aku masih ingat dua kali ia mengatakan peyesalannya ini kepadaku. Pertama ketika kamu jatuh sakit dan harus masuk rumah sakit, kedua ketika kamu mulai lebih mendengarkan perkataan teman-temanmu daripada kami - orang tuamu.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika kamu kecil barangkali bapakmu memang tidak banyak bicara dan bukan teman yang menyenangkan bagimu untuk diajak bermain. Tetapi lihatlah betapa antusiasnya ia ketika membelikanmu mainan.Meski kadang aku pikir ia terlalu memanjakanmu dengan mainan, tetapi rupanya itulah penebusan waktu yang ingin ia berikan kepadamu.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Diantara semua sisi keras Bapakmu, sesungguhnya ia sangat mencintai kamu anakku .. lihatlah ia yang selalu menyempatkan bermain denganmu setelah seharian bekerja keras dan lihatlah ia yang selalu mendengarkan ocehanmu ketika kamu bangga bercerita tentang apa yang kamu lakukan hari ini.</p>
<p class="MsoNormal">Dan tahukah kamu, betapa bangganya ia menceritakan dirimu dihadapan teman-teman bapakmu ? Baginya kamu adalah segalanya. Terkadang bahkan aku iri denganmu.</p>
<p class="MsoNormal">Aku tidak pernah berpikir menjadi tua, bahkan seringkali lupa dengan usia. Aku masih suka memandangmu sebagaimana aku memandangmu ketika kamu masih bayi dan belajar berjalan tertatih. Entahlah, mungkin saat itu adalah saat yang membahagiakan melihatmu sehingga aku ingin selalu mengenangnya. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Dan sekarang apa yang terjadi anakku &#8230;</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Setelah lama kamu tidak memberi kabar kepada Ibumu – sejak kamu menikah – tiba-tiba kami harus mendengar kabar ini &#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Aku lebih memilih tidak mendengar kabarmu 1000 tahun lagi daripada aku menemukanmu beritamu seperti ini</span></p>
<p class="MsoNormal">Apa yang kamu cari anakku &#8230;.</p>
<p class="MsoNormal">Bagaimana mungkin kamu membunuh orang-orang tak bersalah itu. Tidakkah kamu sadar mereka juga mempunyai Ibu yang mencintai mereka seperti aku mencintaimu ???</p>
<p class="MsoNormal">Tidakkah kamu sadar betapa pedihnya Ibu mereka ketika anak yang dikandungnya selama sembilan bulan dan membesarkannya hingga dewasa akhirnya harus kembali kepangkuannya dengan tidak bernyawa.</p>
<p class="MsoNormal">Dan betapa tidak adilnya kehidupan, membiarkannya mengalami hal itu. Melahirkan dan melihatnya mati.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kamu tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu – karena kamu bukanlah perempuan. Kamu tidak mempunyai rahim yang didalamnya bersemayam seorang bayi selama sembilan bulan sepuluh hari. Dan kamu tidak mempunyai tetek yang mengalirkan air susu kehidupan dari putingnya. Kamu memang tidak akan pernah merasakan bagaimana separuh jiwamu menjadi bagian dari seorang anak. Tetapi bukankah kamu juga sudah merasakan bagaimana menjadi seorang ayah bagi anakmu ???</span></p>
<p class="MsoNormal">Kurangkah cinta yang kami – orang tuamu – berikan kepadamu, sehingga engkau sampai demikian membenci kehidupan orang-orang itu ???</p>
<p class="MsoNormal">Apa yang kamu cari nak &#8230;. !!</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Kamu lahir dalam selimut lendir ketuban, begitu kecil dan rapuh. Seonggok daging dengan nyawa</span></p>
<p class="MsoNormal">Kalau saja aku dapat memutar balik waktu kehidupan untukmu, dan kalau saja aku dapat mencegahmu melakukan itu semua.</p>
<p class="MsoNormal">Barangkali aku akan membuangmu ke tong sampah ketika masih orok. Kamu hanya segumpal daging yang bernyawa.</p>
<p class="MsoNormal">Atau dengan hanya dua jariku menutup lubang hidungmu, membuatmu tak bernafas. Kamu hanya seonggok tulang yang bernyawa.<span>   </span></p>
<p class="MsoNormal">Atau membantingmu dengan sekali hempasan ke tanah. Kamu hanya sejumput roh yang bernyawa.</p>
<p class="MsoNormal">Bukankah dengan demikian orang-orang yang kamu bunuh itu akan dapat tetap berkumpul dengan orang-orang yang mereka cintai. Bukankah para Ibu mereka akan tetap dapat saat-saat berbahagia bersama anak-anak mereka ?</p>
<p class="MsoNormal">Bagaimana mungkin engkau merenggut apa yang menjadi milik Gusti.<span>  </span>Bagaimana mungkin engkau mengambil apa yang menjadi hak Gusti, dengan mengambil nyawa dari kehidupan itu.</p>
<p class="MsoNormal">Aku tahu bahwa setiap kehidupan selalu ada titik habisnya. Seperti simbok telah kehilangan kedua eyang dan pakdhe mu, dan mungkin sesaat lagi terjadi atas diriku.</p>
<p class="MsoNormal">Ingatkah kamu dengan kematian nenekmu nak ? Ingatkah kamu ketika aku menunggui beliau dalam saat-saat akhirnya sebelum ajal menjelang ? aku yang memandikannya ketika peyakit tua<span>  </span>itu sudah menyerang, mengganti bajunya, dan menyisir rambutnya ? tiga minggu aku bersamanya, dan yakin bahwa aku bisa menerima setiap saat jika dia pergi meninggalkanku, tapi ternyata aku tidak setangguh yang aku kira.<span>  </span>Aku tetap menangis – meski aku sering melarangmu menangis, karena tangisan hanyalah buah kecengengan - tapi aku menangis, tetap menangis.</p>
<p class="MsoNormal">Tetapi sungguh aku tidak pernah membayangkan bahwa malaikat pencabut nyawa orang-orang yang tidak berdosa itu adalah kamu. Orang yang aku besarkan dalam rumah dengan segala keringat dan pengorbanan yang kedua orang tuamu ini.</p>
<p class="MsoNormal">Seandainya kamu masih mengingat masa kecilmu anakku &#8230;</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Seandainya kamu masih menemukan sekeping saja memori kanakmu tentang kami – orang tuamu berdua – alangkah bahagianya aku anakku ..</span></p>
<p class="MsoNormal">Aku mohon maaf kalau kamu punya dendam dengan masa kanakmu, bahwa kita memang tidak hidup dalam kekurangan pun berlebihan. Tunjukkan kepadaku apa yang kurang dan aku akan memperbaikinya dengan kasih dan sekuat tenagaku.</p>
<p class="MsoNormal">Tetapi lihatlah nak, tidakkah kamu sadar bahwa Gusti selalu memberi kita rejeki untuk tetap bisa makan, memberi bapakmu dan simbokmu ini kesehatan untuk dapat selalu bekerja. Aku selalu bersyukur untuk ini, terlebih sejak kecil kamu jarang sekali menderita sakit. Sedikitnya aku bisa berbangga dengan air susuku.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi ah &#8230; cukuplah dengan kebanggaanku. Pencapaian tertinggi dalam kehidupanku sebagai seorang perempuan adalah menjadi seorang Ibu. Tetapi menjadi Ibu seorang pembunuh &#8230; entahlah &#8230;<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal">Dan kalau memang kamu membunuh orang-orang itu, aku hanya bisa meminta ampun kepada gusti. Mohon kawelasan belas kasihnya, karena aku ternyata tidak mampu untuk hanya dititipkan seorang anak kepadaku.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Aku menyesal anakku. Menyesal telah melahirkanmu kedunia. Melepasmu dari rahim ku. Lebih baik aku membunuhmu dulu, dan ibu-ibu itu tidak akan pernah kehilangan anak-anak mereka.</p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="IN">***</span></p>
<p class="MsoNormal">Barangkali aku - ayahmu – bagimu – bukanlah sosok yang pantas diidolakan. Akupun tidak ingin kamu idolakan. Bukankah banyak kekurangan yang aku miliki ? aku lebih memilih ibumu dari aku untuk diidolakan. </p>
<p class="MsoNormal">Ibumu menjalani kehidupan ini seolah tanpa suara. Berjalan diantara kebisingan duniawi. Ia menatapmu lekat seolah dunia bukanlah sahabat.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kenapa kamu membenci kehidupan anakku ? apakah kehidupan telah berlaku tidak adil kepadamu ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Apakah tinggal bersama kami –lebih dari 20 tahun– telah menumbuhkan kebencian akan kehidupan ? ampuni aku anakku &#8230; ampuni semua kesalahanku bila kau merasakan hal itu. </span></p>
<p class="MsoNormal">Seandainya sejuta waktu dapat aku tebus untukmu, aku melakukannya sekarang</p>
<p class="MsoNormal">Seandainya ribuan mainan dapat membuatmu tertawa lepas, maka aku akan bekerja lebih giat untukmu</p>
<p class="MsoNormal">Dan seandainya dengan membunuhku – satu nyawa – telah memuaskanmu, aku akan menyerahkan diriku padamu anakku.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Aku bukan orang yang pandai mengurai perasaan menjadi bahasa kata-kata. Bahkan aku terlalu tua untuk mengingat semua detil tentang kamu ..</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tapi satu hal yang pasti aku ingat, bahwa kami berdua sangat bahagia dengan kehadiranmu </span></p>
<p class="MsoNormal">Ibumu menangis bahagia ketika melahirkanmu, dan aku akan menyimpan air mata itu dalam kenanganku hingga aku mati nanti.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Sekarang, bagaimana mungkin kamu mengecewakannya sedemikian dalam nak &#8230;<span>  </span>membuatnya kecewa menjadi seorang ibu. Membuat perjuangannya membesarkanmu seakan sia-sia belaka.</p>
<p class="MsoNormal">Aku tidak pernah berpikir menjadi tua, bahkan seringkali lupa dengan usia. Aku masih suka memandangmu sebagaimana aku memandangmu ketika kamu masih bayi dan belajar berjalan tertatih. Entahlah, mungkin saat itu adalah saat yang membahagiakan melihatmu sehingga aku ingin selalu mengenangnya.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Kematian selalu beraroma pahit nak, dan bagi beberapa orang ia menjadi getir untuk dirasakan. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Untuk setiap kematian yang Tuhan telah renggut dari sisiku, selalu meninggalkan sesuatu yang kosong didadaku.</p>
<p class="MsoNormal">Kita memang tidak pernah berdiskusi mengenai falsafah kehidupan, karena aku sendiri tidak memahaminya. Aku mengalaminya seperti kamupun mengalaminya. Belajar kehidupan dari mengalaminya, bukankah itu anugerah dan yang cara terbaik yang bisa kita lakukan anakku ???<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mengajari kehidupanku kepadamu. Aku hanya bisa bercerita dan kamu yang akan menterjemahkan dalam versimu.</p>
<p class="MsoNormal">Mungkin kami hanyalah masa lalu bagimu, karena masa sekarang adalah dirimu saat ini dan masa mendatang adalah bagi anak-anakmu</p>
<p class="MsoNormal">Tapi lihatlah dirimu sekarang, kamu sudah memiliki duniamu sendiri. Bahkan kamu sudah memiliki seorang istri ang mencintaimu dan anak – cucu kami – yang selalu kamu banggakan</p>
<p class="MsoNormal">Dan akhirnya aku hanya bisa berharap anakku, bahwa ini semua adalah mimpi buruk. Mimpi terburuk yang pernah aku alami. Dan esok ketika matahari bersinar kembali aku telah menemukan kamu kembali dalam kehangatan cinta kami.</p>
<p class="MsoNormal">
Pati, 10102002</p>
<p class="MsoNormal">Untuk Momi. Lilo dan calon anakku Pingkan</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kamu adalah elemen surprise bagiku – betapa menyenangkannya ketika melihatmu waktu kecil tiba-tiba bisa berbicara, berjalan dan melakukan sesuatu yang membuat kami berdua takjub<span>  </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bimoeriartha.com/http:/bimoeriartha.com/sample-post/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>nderek langkung</title>
		<link>http://bimoeriartha.com/http:/bimoeriartha.com/sample-post/</link>
		<comments>http://bimoeriartha.com/http:/bimoeriartha.com/sample-post/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 11:02:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bimo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bimoeriartha.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Sugeng ndalu, selamat malem, good evening ..
monggo dise-kecak-aken nggih :))
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sugeng ndalu, selamat malem, good evening ..</p>
<p>monggo dise-kecak-aken nggih :))</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bimoeriartha.com/http:/bimoeriartha.com/sample-post/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
